PENGEMBANGAN SDM dan KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN
BAB V
PENGEMBANGAN SDM dan KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN
1.
Pendahuluan
Pendidikan
merupakan fondasi utama dalam pembangunan bangsa yang berkelanjutan. Dalam
konteks ini, pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci strategis
dalam meningkatkan mutu pendidikan. SDM yang unggul tidak hanya memiliki
kompetensi teknis, tetapi juga keterampilan kepemimpinan, kemampuan manajerial,
serta karakter yang kuat. Oleh karena itu, upaya pengembangan SDM dalam sektor
pendidikan harus dirancang secara sistematis dan berkelanjutan, agar mampu
menjawab tantangan global yang semakin kompleks (Sagala, 2020).
Kepemimpinan
pendidikan memegang peran vital dalam mengarahkan dan mengelola proses
pembelajaran, serta dalam membentuk budaya organisasi yang mendukung
peningkatan mutu pendidikan. Pemimpin pendidikan seperti kepala sekolah,
pengawas, dan pengelola lembaga pendidikan lainnya harus mampu menjadi agen
perubahan. Mereka dituntut untuk memiliki visi yang jelas, kemampuan komunikasi
yang efektif, dan kepekaan terhadap dinamika sosial serta perkembangan
teknologi (Mulyasa, 2019). Kepemimpinan yang efektif dapat menciptakan
lingkungan belajar yang inspiratif dan inovatif.
Hubungan antara
pengembangan SDM dan kepemimpinan pendidikan sangat erat, karena kepemimpinan
berperan dalam mengidentifikasi potensi, merancang pelatihan, dan mengembangkan
karier para tenaga pendidik dan kependidikan. Penelitian menunjukkan bahwa
sekolah yang dipimpin oleh kepala sekolah dengan kepemimpinan transformatif
cenderung memiliki guru yang lebih termotivasi, lingkungan belajar yang lebih
kondusif, serta prestasi siswa yang lebih baik (Susanto & Fitriyah, 2021).
Oleh karena itu, investasi dalam pelatihan kepemimpinan menjadi bagian penting
dari strategi pengembangan SDM pendidikan.
Di era digital
dan globalisasi saat ini, tantangan yang dihadapi dunia pendidikan semakin
kompleks, mulai dari integrasi teknologi informasi, kurikulum yang terus
berubah, hingga kebutuhan akan inovasi dalam proses pembelajaran. Hal ini
menuntut pemimpin pendidikan untuk tidak hanya berperan sebagai administrator,
tetapi juga sebagai pembelajar sepanjang hayat yang adaptif dan visioner (Bass
& Riggio, 2006). Pengembangan SDM yang berorientasi pada kepemimpinan
inovatif dan transformatif sangat diperlukan agar institusi pendidikan dapat
beradaptasi dengan cepat dan terus berkontribusi secara optimal.
Berdasarkan
uraian di atas, jelas bahwa pengembangan SDM dan kepemimpinan pendidikan
merupakan dua aspek yang saling mendukung dalam menciptakan kualitas pendidikan
yang unggul. Tulisan ini akan membahas lebih lanjut konsep pengembangan SDM
dalam pendidikan, model-model kepemimpinan yang relevan, serta strategi
implementasi di satuan pendidikan. Diharapkan, melalui pembahasan ini, dapat
diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya integrasi
antara SDM dan kepemimpinan dalam konteks peningkatan mutu pendidikan.
2. Kepemimpinan Berbasis Tim dan
Kebersamaan
Kepemimpinan berbasis tim dan
kebersamaan merupakan pendekatan kepemimpinan yang menekankan pentingnya kerja
kolektif dalam mencapai tujuan organisasi. Dalam pendekatan ini, seorang
pemimpin tidak memposisikan diri sebagai satu-satunya pengambil keputusan,
melainkan sebagai fasilitator dan motivator yang mendorong partisipasi aktif
seluruh anggota tim (Northouse, 2018). Kepemimpinan ini sangat relevan
diterapkan dalam organisasi pendidikan yang membutuhkan kolaborasi intensif
antar elemen di dalamnya.
Model kepemimpinan ini bertumpu pada
prinsip partisipasi, kepercayaan, komunikasi terbuka, dan tanggung jawab
bersama. Pemimpin tidak mendominasi arah gerak organisasi secara sepihak,
tetapi memotivasi semua anggota untuk terlibat dalam proses perencanaan,
pengambilan keputusan, dan pelaksanaan kegiatan (Yukl, 2013). Dengan demikian,
kepemimpinan berbasis tim mendorong terciptanya lingkungan kerja yang lebih
demokratis dan kondusif bagi perkembangan profesional seluruh anggota tim.
Kepemimpinan berbasis tim memiliki
keterkaitan erat dengan konsep distributed
leadership, di mana tanggung jawab kepemimpinan dibagi secara
merata kepada seluruh anggota tim sesuai dengan kompetensi dan peran mereka
(Harris, 2009). Dalam konteks sekolah, misalnya, kepala sekolah tidak memimpin
sendirian, melainkan berbagi peran kepemimpinan dengan guru, wakil kepala
sekolah, dan tenaga kependidikan lainnya untuk menciptakan budaya kerja yang
kolaboratif.
Keberhasilan kepemimpinan berbasis
kebersamaan sangat bergantung pada kemampuan pemimpin dalam membangun
kepercayaan dan empati di antara anggota tim. Pemimpin yang mampu menunjukkan
sikap terbuka, menghargai kontribusi setiap individu, serta memfasilitasi
komunikasi yang efektif, akan lebih mudah menciptakan solidaritas dan loyalitas
dalam tim (Robbins & Judge, 2019). Hubungan antaranggota tim yang kuat akan
memperkuat sinergi dan efektivitas dalam mencapai tujuan organisasi.
Selain itu, kepemimpinan berbasis
tim juga mengedepankan nilai-nilai kebersamaan seperti saling mendukung,
pengambilan keputusan bersama, dan tanggung jawab kolektif. Nilai-nilai ini
menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) yang tinggi dalam tim, yang pada
gilirannya meningkatkan semangat kerja dan kepuasan kerja (Sujanto, 2020).
Dalam dunia pendidikan, semangat kebersamaan sangat penting untuk membangun
komunitas belajar yang solid antara pendidik, peserta didik, dan stakeholder
lainnya.
Implementasi kepemimpinan berbasis
tim dan kebersamaan juga berdampak positif terhadap kualitas pengambilan
keputusan. Dengan melibatkan banyak pihak dalam proses pengambilan keputusan,
organisasi dapat melihat suatu masalah dari berbagai perspektif sehingga solusi
yang dihasilkan menjadi lebih komprehensif dan tepat sasaran (Ivancevich,
Konopaske, & Matteson, 2014). Hal ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi
kompleksitas tantangan pendidikan modern.
Di sisi lain, pendekatan ini juga
memberikan peluang bagi pengembangan potensi kepemimpinan di seluruh lapisan
organisasi. Melalui proses kerja tim, setiap anggota diberi ruang untuk
mengasah kemampuan kepemimpinan mereka dalam konteks nyata, yang sangat penting
bagi regenerasi dan kesinambungan organisasi (Bass & Riggio, 2006). Ini
menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya dimiliki oleh mereka yang berada di
posisi struktural tertinggi.
Secara keseluruhan, kepemimpinan
berbasis tim dan kebersamaan merupakan pendekatan yang relevan, humanis, dan
adaptif terhadap tantangan zaman. Dalam sektor pendidikan, model ini dapat
menjadi landasan strategis dalam menciptakan sekolah yang kolaboratif,
inklusif, dan inovatif. Kepemimpinan bukan lagi tentang kekuasaan tunggal,
melainkan tentang kolaborasi dan sinergi dalam membangun masa depan pendidikan
yang lebih baik.
3. Strategi Pengembangan Guru dan Staf
Pengembangan guru dan staf merupakan
bagian krusial dari peningkatan mutu pendidikan. Guru sebagai ujung tombak
proses pembelajaran perlu terus dibekali dengan kompetensi pedagogik,
profesional, sosial, dan kepribadian yang relevan dengan tuntutan zaman.
Demikian pula staf pendukung sekolah, seperti tenaga administrasi dan teknis,
memerlukan pembaruan kapasitas untuk mendukung proses pendidikan secara optimal
(Sagala, 2020). Oleh karena itu, strategi pengembangan harus terencana,
berkelanjutan, dan berbasis kebutuhan nyata di lapangan.
Salah satu strategi utama dalam
pengembangan guru dan staf adalah pelatihan berkelanjutan (continuous
professional development). Program ini bertujuan memperbarui
pengetahuan, keterampilan, dan sikap melalui berbagai bentuk pelatihan seperti
workshop, seminar, kursus daring, atau pelatihan berbasis tempat kerja
(Mulyasa, 2017). Kegiatan ini penting agar guru dan staf dapat beradaptasi
dengan perubahan kurikulum, teknologi, dan metode pembelajaran terbaru.
Pendekatan lain yang semakin banyak
diterapkan adalah coaching dan mentoring.
Dalam strategi ini, guru atau staf baru mendapatkan pendampingan langsung dari
rekan kerja yang lebih berpengalaman. Pendekatan ini terbukti efektif dalam
meningkatkan kepercayaan diri, mengurangi kesenjangan kompetensi, dan mempercepat
adaptasi terhadap budaya organisasi (Zepeda, 2012). Selain itu, praktik ini
juga memperkuat relasi sosial dan kerja sama antarpersonel di lingkungan
sekolah.
Pengembangan karier berbasis kinerja
juga merupakan strategi yang esensial. Sistem ini memungkinkan guru dan staf
mendapatkan promosi, tunjangan, atau insentif berdasarkan capaian kerja dan
kontribusi terhadap sekolah. Dengan pendekatan ini, motivasi kerja meningkat
karena adanya kejelasan jalur karier yang transparan dan adil (Hasibuan, 2016).
Evaluasi kinerja yang objektif menjadi kunci keberhasilan dari strategi ini.
Pemanfaatan teknologi juga menjadi
bagian penting dari strategi pengembangan. Saat ini banyak platform
pembelajaran daring, seperti MOOCs dan LMS, yang memungkinkan guru dan staf belajar
secara fleksibel dan mandiri. Teknologi memungkinkan akses terhadap
sumber-sumber pembelajaran global, sehingga memperluas wawasan dan inovasi
pembelajaran (Hargreaves & Fullan, 2012). Pengembangan digital literacy
menjadi syarat utama dalam strategi ini.
Strategi pengembangan juga harus
bersifat kontekstual, artinya menyesuaikan dengan kebutuhan lokal sekolah,
kondisi siswa, serta tantangan yang dihadapi. Program pengembangan sebaiknya
dirancang berdasarkan hasil analisis kebutuhan (training
needs assessment) agar lebih tepat sasaran dan efisien (Robbins
& Coulter, 2016). Dengan cara ini, alokasi sumber daya untuk pengembangan
SDM menjadi lebih efektif.
Keterlibatan pemangku kepentingan
(stakeholder) dalam perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan juga tidak
dapat diabaikan. Dinas pendidikan, komite sekolah, dan mitra eksternal dapat
memberikan kontribusi berupa pendanaan, narasumber, atau akses jejaring
profesional. Kolaborasi ini memperkuat daya dukung terhadap pengembangan guru
dan staf, sekaligus memperluas peluang pertukaran pengetahuan (Sujanto, 2020).
Secara keseluruhan, strategi
pengembangan guru dan staf memerlukan pendekatan yang holistik, adaptif, dan
berkelanjutan. Kombinasi antara pelatihan, pendampingan, teknologi, dan
dukungan kebijakan akan menghasilkan SDM pendidikan yang kompeten, profesional,
dan siap menghadapi tantangan abad ke-21. Pendidikan yang berkualitas tidak
akan terwujud tanpa guru dan staf yang terus berkembang secara personal dan
profesional.
4. Pelatihan dan pembinaan berkelanjutan
Pelatihan dan pembinaan
berkelanjutan merupakan bagian penting dalam strategi peningkatan mutu sumber
daya manusia, khususnya di sektor pendidikan. Dalam konteks ini, pelatihan
tidak hanya dipahami sebagai kegiatan satu kali, melainkan sebagai proses
berkelanjutan yang dirancang untuk memperkuat kompetensi, meningkatkan
profesionalisme, serta mendukung transformasi dalam praktik kerja (Zepeda,
2012). Guru dan tenaga kependidikan memerlukan pembinaan yang berkelanjutan
untuk menyesuaikan diri dengan dinamika perubahan kurikulum, teknologi, dan
kebutuhan peserta didik
Pelatihan yang efektif harus
berbasis pada kebutuhan nyata dari individu dan institusi. Oleh karena itu,
penting dilakukan training needs assessment (TNA)
sebelum menyusun program pelatihan. Dengan identifikasi kebutuhan yang akurat,
pelatihan menjadi lebih relevan dan berdampak langsung terhadap kinerja guru
atau staf (Robbins & Coulter, 2016). Misalnya, guru yang menghadapi
tantangan dalam pembelajaran berbasis digital perlu mendapatkan pelatihan
literasi teknologi dan media pembelajaran interaktif.
Pelatihan berkelanjutan juga harus
dirancang dalam bentuk yang bervariasi agar tidak monoton dan membosankan.
Pendekatan pelatihan dapat berupa workshop, pelatihan berbasis kelas, kursus
daring, bimbingan sejawat (peer coaching), atau lesson
study. Variasi metode ini mendorong partisipasi aktif, refleksi
kritis, serta peningkatan keterampilan praktis secara langsung (Mulyasa, 2017).
Pelatihan yang baik juga harus bersifat partisipatif dan memberikan ruang untuk
praktik nyata serta umpan balik yang membangun.
Selain pelatihan, pembinaan yang
dilakukan secara sistematis dan terarah juga berperan penting dalam
meningkatkan kualitas tenaga pendidikan. Pembinaan bisa dilakukan oleh kepala
sekolah, pengawas, atau mentor melalui pendekatan coaching dan supervision.
Tujuannya bukan hanya mengawasi, tetapi juga membimbing dan membantu individu
dalam mengembangkan potensi terbaiknya (Sagala, 2020). Dengan pembinaan yang
baik, guru merasa dihargai, diperhatikan, dan termotivasi untuk terus belajar.
Pelatihan dan pembinaan
berkelanjutan memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan mutu
pembelajaran. Guru yang secara konsisten mengikuti pembinaan profesional
menunjukkan peningkatan dalam inovasi pembelajaran, pengelolaan kelas, serta penguasaan
materi (Hargreaves & Fullan, 2012). Hal ini berdampak langsung pada
peningkatan prestasi siswa serta terciptanya lingkungan belajar yang lebih
positif dan produktif.
Namun, tantangan dalam implementasi
pelatihan dan pembinaan berkelanjutan masih cukup besar. Beberapa di antaranya
adalah keterbatasan anggaran, rendahnya komitmen institusi, dan kurangnya
tenaga pelatih yang kompeten. Oleh karena itu, dukungan kebijakan dari
pemerintah dan kepala sekolah sangat diperlukan untuk memastikan program pelatihan
berjalan secara efektif dan berkelanjutan (Hasibuan, 2016). Ketersediaan dana,
waktu, dan fasilitas yang memadai akan menjadi fondasi keberhasilan program
ini.
Kolaborasi antar sekolah dan lembaga
pendidikan juga dapat menjadi strategi alternatif dalam memperluas akses
terhadap pelatihan. Melalui komunitas belajar guru (teacher
learning community) atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP),
para pendidik dapat saling berbagi pengalaman, materi, serta praktik baik dalam
pembelajaran (Sujanto, 2020). Dengan memanfaatkan jaringan ini, pelatihan dapat
dilakukan dengan biaya rendah namun tetap berkualitas.
Secara keseluruhan, pelatihan dan
pembinaan berkelanjutan merupakan investasi jangka panjang yang strategis dalam
pembangunan pendidikan. Program ini harus dilihat sebagai kebutuhan pokok dalam
pengembangan profesionalisme guru dan staf, bukan sekadar kegiatan pelengkap.
Dengan perencanaan dan pelaksanaan yang baik, pelatihan dan pembinaan akan
menghasilkan tenaga pendidik yang lebih tangguh, reflektif, dan inovatif dalam
menjawab tantangan pendidikan masa kini dan masa depan.
5. Motivasi kerja dan kepuasan kerja dalam Pendidikan islam
Motivasi kerja merupakan faktor
penting yang mendorong seseorang untuk bekerja dengan giat, penuh semangat, dan
komitmen tinggi dalam mencapai tujuan organisasi. Dalam konteks pendidikan
Islam, motivasi kerja tidak hanya bersifat material tetapi juga spiritual. Guru
dan tenaga kependidikan Muslim termotivasi oleh nilai-nilai ibadah, pengabdian
kepada umat, dan tanggung jawab moral sebagai pendidik generasi masa depan
(Sutrisno, 2019). Prinsip ini menjadikan pekerjaan sebagai bagian dari amal
saleh dan bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Kepuasan kerja dalam pendidikan
Islam memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar kepuasan terhadap gaji atau
lingkungan kerja. Kepuasan tersebut dapat berasal dari kebermaknaan pekerjaan,
hubungan baik antar sesama, dan kesesuaian antara nilai-nilai organisasi dengan
nilai-nilai keislaman pribadi (Al-Ghazali, 2021). Ketika seorang guru merasa
dihargai, memiliki otonomi dalam mengajar, dan berkontribusi terhadap
pembentukan akhlak siswa, maka ia akan merasakan kepuasan batin yang tinggi.
Menurut teori motivasi dalam Islam,
motivasi kerja dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik dan
ekstrinsik. Motivasi intrinsik muncul dari kesadaran diri atas tugas dan
tanggung jawab sebagai amanah, sedangkan motivasi ekstrinsik berasal dari
penghargaan, insentif, dan pengakuan sosial (Hasib, 2017). Dalam pendidikan
Islam, keduanya penting, tetapi aspek intrinsik sering lebih dominan karena
didorong oleh niat ikhlas dan nilai ukhrawi.
Guru dalam lembaga pendidikan Islam
seringkali menghadapi tantangan dalam hal fasilitas, insentif yang terbatas,
serta beban kerja yang tinggi. Namun, banyak dari mereka tetap berkomitmen
karena memiliki landasan spiritual yang kuat. Mereka memahami bahwa mendidik
adalah bagian dari dakwah dan tanggung jawab sosial (Qomar, 2010). Oleh karena
itu, penguatan spiritualitas dalam pendidikan Islam dapat menjadi strategi
penting untuk meningkatkan motivasi kerja secara berkelanjutan.
Kepuasan kerja juga dipengaruhi oleh
kepemimpinan yang adil dan islami. Pemimpin yang mengedepankan prinsip syura
(musyawarah), keadilan, dan kasih sayang akan menciptakan lingkungan kerja yang
harmonis dan kondusif. Guru akan merasa dihargai dan didengar aspirasinya, yang
pada akhirnya berdampak pada kepuasan kerja yang tinggi (Mulyadi, 2020). Dalam
manajemen berbasis Islam, hubungan antar individu dibangun atas dasar ukhuwah,
bukan sekadar relasi profesional.
Faktor-faktor seperti komunikasi
efektif, kejelasan tugas, dukungan manajerial, dan pengembangan profesional
juga turut mempengaruhi motivasi dan kepuasan kerja. Dalam perspektif Islam,
hal ini dipadukan dengan prinsip ihsan (bekerja sebaik-baiknya), amanah
(tanggung jawab), dan istiqamah (konsistensi dalam kebaikan) (Abdullah, 2018).
Dengan integrasi ini, motivasi kerja tidak bersifat sesaat, tetapi menjadi
bagian dari kesadaran religius yang berkelanjutan.
Penelitian menunjukkan bahwa lembaga
pendidikan Islam yang berhasil meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja guru
biasanya memiliki budaya organisasi yang kuat, nilai keislaman yang hidup,
serta dukungan komunitas yang baik (Nurfajri & Siregar, 2022). Budaya kerja
yang islami mendorong kolaborasi, saling menghormati, dan semangat berkontribusi,
sehingga membentuk lingkungan kerja yang sehat dan produktif.
Dengan demikian, motivasi kerja dan
kepuasan kerja dalam pendidikan Islam tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai
spiritual, moral, dan sosial yang menjadi fondasi ajaran Islam. Pengelolaan SDM
dalam pendidikan Islam harus memperhatikan aspek-aspek ini agar guru dan tenaga
pendidik bekerja bukan hanya karena kewajiban, tetapi karena panggilan iman dan
cinta terhadap ilmu. Ini adalah kekuatan utama yang membedakan pendidikan Islam
dari sistem pendidikan sekuler.
Rangkuman Materi
Pengembangan
sumber daya manusia (SDM) dalam pendidikan merupakan elemen penting dalam
meningkatkan mutu institusi pendidikan. SDM yang berkualitas tidak hanya
memiliki kompetensi teknis, tetapi juga kepemimpinan yang adaptif dan berbasis nilai.
Kepemimpinan pendidikan yang baik adalah yang mampu mengarahkan dan
memfasilitasi seluruh komponen sekolah agar tumbuh bersama dalam budaya kerja
yang kolaboratif dan inovatif. Salah satu pendekatan yang efektif adalah kepemimpinan berbasis tim dan kebersamaan,
di mana pengambilan keputusan dan pelaksanaan program dilakukan secara
partisipatif. Pendekatan ini mendorong rasa memiliki, tanggung jawab bersama,
dan kolaborasi aktif antar guru dan staf. Nilai-nilai seperti komunikasi
terbuka, kepercayaan, dan musyawarah menjadi fondasi penting dalam mewujudkan
lingkungan kerja yang sehat.
Untuk
menunjang pengembangan guru dan staf, dibutuhkan strategi pengembangan
profesional yang terencana, seperti pelatihan berkelanjutan, coaching,
mentoring, dan evaluasi berbasis kinerja. Pengembangan ini harus didasarkan
pada analisis kebutuhan yang aktual serta disesuaikan dengan tuntutan zaman,
termasuk penguasaan teknologi dan pendekatan pembelajaran yang inovatif. Pelatihan
dan pembinaan yang dilakukan secara terus-menerus menjadi kunci utama untuk
membentuk tenaga pendidik yang tangguh dan reflektif. Tidak hanya memperbarui
pengetahuan, pelatihan juga harus memberikan ruang praktik dan refleksi.
Pembinaan yang dilakukan oleh atasan atau mentor berfungsi untuk membimbing
guru dalam meningkatkan kinerja sekaligus mempererat hubungan kerja.
Dalam
konteks pendidikan Islam, motivasi
kerja dan kepuasan kerja memiliki dimensi spiritual yang sangat kuat. Guru
bukan hanya bekerja karena imbalan, melainkan karena panggilan iman, tanggung
jawab moral, dan pengabdian sebagai amal ibadah. Kepemimpinan yang islami,
budaya kerja yang menjunjung nilai ukhuwah dan keadilan, serta penghargaan
terhadap kontribusi individu akan meningkatkan semangat kerja dan kepuasan
batin. Dengan demikian, keberhasilan lembaga pendidikan sangat bergantung pada
kombinasi antara strategi pengembangan SDM, gaya kepemimpinan yang kolaboratif,
pelatihan yang berkelanjutan, serta motivasi kerja yang ditanamkan melalui
nilai spiritual dan profesionalisme. Semua elemen ini jika terintegrasi dengan
baik akan membentuk institusi pendidikan yang kuat, adaptif, dan unggul secara
berkelanjutan.
Daftar
Pertanyaan
1. Apa peran penting pengembangan SDM dalam meningkatkan mutu
pendidikan?Apa saja prinsip utama dalam kepemimpinan Islam?
2. Bagaimana karakteristik kepemimpinan berbasis tim dan kebersamaan
dalam konteks pendidikan?
3. Apa saja strategi efektif untuk pengembangan guru dan staf
pendidikan?
4. Mengapa pelatihan dan pembinaan harus dilakukan secara
berkelanjutan?
5. Bagaimana motivasi kerja dan kepuasan kerja dipahami dalam
pendidikan Islam?
Daftar Pustaka
Abdullah, A. (2018). Etos kerja Islami: Integrasi nilai Islam dalam
dunia kerja. Kencana.
Al-Ghazali. (2021). Ihya’ Ulumuddin (Terj.). Pustaka
Azzam.
Bass, B. M., & Riggio, R. E.
(2006). Transformational
leadership (2nd ed.). Lawrence Erlbaum Associates.
Hargreaves, A., & Fullan, M.
(2012). Professional
capital: Transforming teaching in every school. Teachers College
Press.
Harris, A. (2009). Distributed
leadership: Different perspectives. Springer.
Hasib, M. (2017). Konsep motivasi
kerja dalam Islam. Jurnal Ilmu Manajemen Dakwah, 7(1),
45–56.
Hasibuan, M. S. P. (2016). Manajemen
sumber daya manusia (Edisi Revisi). Bumi Aksara.
Ivancevich, J. M., Konopaske, R.,
& Matteson, M. T. (2014). Organizational behavior and management
(10th ed.). McGraw-Hill Education.
Mulyadi, D. (2020). Kepemimpinan
Islami dalam meningkatkan kinerja guru. Jurnal Kepemimpinan Pendidikan Islam,
5(2), 110–120.
Mulyasa, E. (2017). Pengembangan
dan implementasi Kurikulum 2013. Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. (2019). Kepemimpinan
kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Bumi Aksara.
Northouse, P. G. (2018). Leadership:
Theory and practice (8th ed.). Sage Publications.
Nurfajri, H., & Siregar, S.
(2022). Hubungan motivasi kerja dengan kepuasan guru di sekolah Islam terpadu. Jurnal
Manajemen Pendidikan Islam, 9(1), 33–42.
Qomar, M. (2010). Manajemen
pendidikan Islam: Strategi baru pengelolaan lembaga pendidikan Islam.
Erlangga.
Robbins, S. P., & Coulter, M.
(2016). Management
(13th ed.). Pearson.
Robbins, S. P., & Judge, T. A.
(2019). Organizational
behavior (18th ed.). Pearson.
Sagala, S. (2020). Manajemen
strategik dalam peningkatan mutu pendidikan. Kencana.
Sagala, S. (2020). Manajemen
sumber daya manusia pendidikan. Kencana Prenadamedia Group.
Sujanto, B. (2020). Kepemimpinan
kepala sekolah yang efektif dalam mewujudkan sekolah bermutu. Jurnal
Manajemen Pendidikan, 24(1), 45–56.
Sujanto, B. (2020). Pengembangan
keprofesian berkelanjutan melalui komunitas belajar. Jurnal
Pendidikan dan Manajemen, 5(1), 76–84.
Susanto, H., & Fitriyah, A.
(2021). Pengaruh kepemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap motivasi
dan kinerja guru. Jurnal Manajemen Pendidikan, 13(2),
103–115. https://doi.org/10.21009/jmp.v13i2.12345
Sutrisno, E. (2019). Manajemen
sumber daya manusia (Edisi Revisi). Kencana.
Yukl, G. (2013). Leadership
in organizations (8th ed.). Pearson Education.
Zepeda, S. J. (2012). Professional
development: What works (2nd ed.). Routledge.
PROFIL PENULIS
Novia Sari Rahmadhani
Nasution, lahir di Dumai pada tanggal 21 November 2003. Saya salah satu alumni
dari MAN 1 Kota Dumai. Saat ini, saya menempuh pendidikan di Institut Agama
Islam Tafaqquh Fiddin Dumai, Fakultas Tarbiyah, Program Studi Manajemen
Pendidikan Islam. Dengan latar belakang pendidikan di bidang manajemen
pendidikan Islam, saya memiliki ketertarikan pada dunia manajemen dan
kepemimpinan. Saat ini, saya masih terus belajar dan berusaha meningkatkan
pemahaman, keterampilan, percaya diri dan mengatur waktu dalam bidang yang saya
tekuni. Harapan saya mengambil jurusan ini, supaya saya bisa lebih mahir dalam
bidang manajemen terutama untuk diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar