Tugas UTS Kepemimpinan Manajemen

 Nama : Novia Sari Rahmadhani Nasution

Program Studi : Manajemen Pendidikan Islam

Mata Kuliah : Kepemimpinan Manajemen

Dosen : Dawami S.Sos, M.I.Kom


UJIAN TENGAH SEMESTER

Kepemimpinan Manajemen


1. Digital Leadership dan Kebhinekaan: Transformasi Jati Diri Bangsa di Era Modern

Kepemimpinan dalam konteks lembaga pendidikan Islam bukanlah entitas statis yang hanya berkutat pada jabatan formal dan struktur hirarkis, melainkan merupakan proses yang dinamis dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Dalam era digital dan globalisasi saat ini, pemimpin di lembaga pendidikan Islam dituntut untuk lebih adaptif dan responsif terhadap perubahan, baik dalam hal teknologi, kebutuhan peserta didik, maupun dinamika sosial. Sebagaimana dijelaskan oleh Northouse, kepemimpinan adalah proses memengaruhi orang lain untuk memahami dan menyepakati apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya secara efektif (Northouse, 2021, hlm. 6). Dalam pengalaman saya mengikuti kegiatan organisasi intra madrasah berbasis keislaman, saya menyaksikan bagaimana seorang ketua yang awalnya hanya fokus pada perintah, perlahan belajar mendengar dan melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan, terutama ketika harus menyesuaikan program kerja dengan kebutuhan mahasiswa selama pandemi COVID-19. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif menuntut pertumbuhan berkelanjutan sesuai dengan konteks zaman dan tantangan yang dihadapi.

Lebih jauh lagi, kepemimpinan bukanlah proses yang berdiri sendiri, melainkan merupakan sistem yang saling terkait dengan aspek manajemen, komunikasi, dan nilai-nilai organisasi. Dalam lembaga pendidikan Islam, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari seberapa kuat ia memegang kendali, tetapi dari bagaimana ia mampu mengintegrasikan visi organisasi dengan pengelolaan sumber daya manusia, pola komunikasi yang terbuka, dan nilai-nilai keislaman seperti kejujuran, keadilan, dan amanah. Yukl (2020) menekankan bahwa kepemimpinan yang efektif membutuhkan pemahaman tentang bagaimana sistem organisasi bekerja dan bagaimana mengkoordinasikan elemen-elemennya secara sinergis (Yukl, 2020, hlm. 88). Dalam pengalaman saya sebagai panitia kegiatan Hari Besar Islam di sekolah, kami pernah menghadapi konflik antara panitia dan peserta karena miskomunikasi. Namun, ketua panitia mampu menyelesaikan masalah tersebut melalui pendekatan komunikatif yang menghargai masukan semua pihak, serta tetap berpegang pada prinsip kolektifitas yang menjadi nilai dasar organisasi. Hal ini memperlihatkan pentingnya keterkaitan antara kepemimpinan, manajemen, dan komunikasi.

Selain sistem, simbol dan budaya organisasi juga memainkan peran penting dalam membentuk karakter dan efektivitas kepemimpinan. Dalam lembaga pendidikan Islam, simbol seperti seragam, jargon, tata tertib, hingga metode musyawarah, bukan sekadar formalitas, melainkan refleksi dari nilai dan budaya yang mendasari praktik kepemimpinan. Menurut Schein (2017), budaya organisasi membentuk cara pandang dan perilaku anggota, termasuk pemimpin, dalam merespons tantangan dan membuat keputusan (Schein, 2017, hlm. 231). Di madrasah tempat saya bersekolah, saya melihat bagaimana seorang kepsek, beberapa staf, guru, dan karyawan yang memberi contoh memimpin bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui keteladanan dalam ibadah, kesederhanaan hidup, dan konsistensinya dalam menjaga nilai-nilai dalam madrasah. Gaya komunikasi mereka yang penuh hikmah, tidak menggurui, dan membangun dialog, telah menciptakan iklim kepemimpinan yang partisipatif dan transformatif. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif dalam lembaga Islam sangat dipengaruhi oleh simbol, budaya, dan komunikasi yang mengakar pada nilai luhur keislaman.

Kesimpulannya, kepemimpinan dalam lembaga pendidikan Islam adalah proses yang dinamis dan kompleks. Ia tumbuh dan berubah sesuai zaman, berjalan dalam sistem yang saling berkaitan dengan manajemen, komunikasi, dan nilai organisasi, serta sangat dipengaruhi oleh simbol dan budaya yang hidup dalam lembaga tersebut. Pengalaman pribadi saya selama bersekolah di madrasah tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif adalah yang mampu menyesuaikan diri, mengelola sistem dengan bijak, dan menghidupkan nilai-nilai Islam secara nyata dalam setiap tindakan.


2. Kepemimpinan Manajerial Islam: Membangun Karakter dan Jati Diri Bangsa di Era Hardiknas

Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, kita diajak kembali merenungkan peran kepemimpinan dalam pendidikan karakter dan pembentukan jati diri bangsa. Di sinilah makna terdalam kepemimpinan manajerial muncul: sebagai fondasi pengelolaan lembaga pendidikan yang tidak sekadar mengatur rutinitas administratif, tetapi juga membentuk budaya belajar yang memprioritaskan integritas dan empati peserta didik. Konsep ini dijelaskan Northouse sebagai “proses memengaruhi sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama dengan cara yang etis, adaptif, dan berkelanjutan” (Northouse, 2021, hlm. 27). Dalam konteks sekolah atau pesantren, pemimpin manajerial harus mampu merancang kebijakan dan prosedur yang memupuk karakter, misalnya program mentoring rutin dan evaluasi sikap kejujuran dalam ujian, sehingga organisasi pendidikan tumbuh sebagai ekosistem karakter yang kohesif (Ahmed & El-Kandil, 2022, hlm. 48).

Esensi kepemimpinan manajerial dalam membangun karakter peserta didik terletak pada sinergi antara visi strategis dan praktek sehari-hari. Seorang kepala sekolah atau kepala madrasah tidak hanya menetapkan visi “insan kamil” atau “unggul dalam iman dan ilmu”, tetapi juga memastikan setiap program mulai dari kurikulum hingga kegiatan ekstrakurikuler terintegrasi dengan nilai karakter yang ingin dibangun. Yukl menegaskan pentingnya pengelolaan sistem sebagai jaringan elemen sumber daya manusia, proses komunikasi, dan kebijakan yang saling bergantung dalam organisasi (Yukl, 2019, hlm. 112). Misalnya, dalam pengalaman saya sebagai ketua OSIS di madrasah, ketika hendak menerapkan program “Forum Diskusi Nilai Kebangsaan”, diperlukan koordinasi intensif dengan guru, pembina, dan panitia agar materi, metode, dan evaluasi sesuai dengan nilai yang ingin ditanamkan, yaitu toleransi dan cinta tanah air.

Lebih jauh, kepemimpinan manajerial dalam lembaga Islam senantiasa berakar pada nilai-nilai Islami seperti adab, amanah, sopan santun, dan penghormatan terhadap guru serta orang tua. Nilai-nilai ini bukan sekadar slogan, melainkan parameter etis yang menuntun setiap tindakan pemimpin. Khan dan Miah (2021) memaparkan bahwa “amanah” menuntut pemimpin untuk bertanggung jawab penuh atas amanat yang dipercayakan, baik keuangan pesantren maupun kesejahteraan santri (hlm. 107). Saya menyaksikan hal ini ketika kepala madrasah kami memilih menerapkan laporan keuangan terbuka tiap kuartal, sekaligus menjelaskan penggunaan dana dalam rapat pertemuan di aula, langkah ini memperkuat kepercayaan siswa siswi sekaligus menginternalisasi nilai kejujuran dan keterbukaan. Begitu pula “adab” dan “sopan santun” tampil dalam setiap tatacara rapat pengurus, di mana musyawarah dipandu dengan tata krama lembut, mengutamakan ucapan salam, dan mendahulukan mendengarkan pandangan anggota yang lebih muda.

Penting pula menyoroti bagaimana kepemimpinan manajerial mencerminkan penghormatan terhadap keberagaman (kebhinekaan) dalam bingkai NKRI. Dalam lembaga pendidikan Islam di Indonesia, peserta didik datang dari berbagai suku, budaya, dan latar belakang sosial. Kepemimpinan yang efektif memerlukan kebijakan inklusif misalnya kurikulum muatan lokal yang memberi ruang bagi cerita rakyat setempat serta dialog lintas agama dalam pelajaran studi keislaman. Ahmed & El-Kandil (2022) menemukan bahwa “budaya organisasi yang inklusif meningkatkan rasa memiliki dan komitmen peserta didik terhadap lembaga” (hlm. 59). Saat mengorganisir acara Hari Besar yang berkaitan dengan kebhinekaan di sekolah misalnya Hari Sumpah Pemuda, saya mengusulkan kepada guru untuk menginformasikan kepada siswa/i perwakilan dalam setiap kelas untuk mengenakan pakaian adat. Guna untuk menampilkan pakaian daerah masing-masing, sehingga semangat kebhinekaan tidak hanya diajarkan, tetapi juga dirayakan secara nyata.

Relevansi nilai-nilai kepemimpinan islami dan manajerial ini bagi generasi muda dan pengelola lembaga saat ini sangat strategis, terutama di era globalisasi dan digitalisasi. Generasi milenial dan Z tumbuh di tengah arus informasi cepat, namun sekaligus rentan terpapar nilai-nilai materialistis dan individualistis. Di sinilah kepemimpinan manajerial berbasis nilai menjadi alat transformasi sosial dengan menerapkan program kepemimpinan digital (digital leadership), lembaga dapat membekali siswa/i dan mahasiswa dengan literasi kritik media, tanggung jawab digital, serta kepekaan sosial, semua dikemas dalam kerangka amanah dan adab Islami. Rahman & Sulaiman (2023) menunjukkan bahwa “keterampilan kepemimpinan digital yang diwarnai nilai etis meningkatkan kapasitas generasi muda untuk memimpin perubahan sosial secara konstruktif” (hlm. 255). Saya merasakan manfaatnya saat berkolaborasi dalam webinar nasional tentang “Etika Media Sosial bagi Pemimpin Masa Depan”: peserta didik semakin termotivasi untuk menggunakan platform digital untuk kampanye nilai positif, bukan sekadar tren viral.

Peran simbol dan budaya organisasi juga tidak boleh diabaikan. Simbol seperti bendera merah-putih, sorban kiai, seragam sekolah, hingga jargon “Insan Cendekia Berakhlak Mulia” telah menanamkan kebanggaan dan identitas bersama. Menurut Avolio & Bass (2020), simbol-simbol ini menjadi “alat retoris dan psikologis yang memperkuat kohesi kelompok dan memotivasi perilaku sesuai nilai” (hlm. 88). Saya merasakan hal ini ketika mengenakan almamater kampus lengkap dengan pin lambang Lembaga, seketika rasa tanggung jawab sebagai mahasiswa nilai muncul, mendorong saya berperilaku lebih disiplin dan santun, baik di dalam maupun luar lingkungan kampus.

Secara keseluruhan, inti bahasan kepemimpinan manajerial dalam pendidikan karakter bukan hanya tentang efisiensi administratif, tetapi juga tentang membangun budaya dan jati diri bangsa. Dengan mengintegrasikan nilai Islami adab, amanah, sopan santun, penghormatan guru/orang tua, dan kebhinekaan. Pemimpin lembaga pendidikan menjadi agen transformasi sosial. Mereka tidak hanya mencetak individu berprestasi, tetapi juga warga negara yang berkarakter kuat, kritis, dan peka terhadap perubahan global, sehingga jati diri bangsa Indonesia tetap kokoh di tengah gelombang digitalisasi dan pluralisme zaman.


 

DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, S., & El-Kandil, M. (2022). Managerial leadership and organizational culture in Islamic schools. International Journal of Educational Management, 36(1), 45–62.

Avolio, B. J., & Bass, B. M. (2020). Developing transformational leadership (2nd ed.). Psychology Press.

Khan, T. Y., & Miah, M. S. (2021). Islamic leadership ethics and practices in education: A systematic review. Journal of Islamic Education, 15(2), 101–119.

Northouse, P. G. (2021). Leadership: Theory and practice (9th ed.). SAGE Publications.

Rahman, F., & Sulaiman, N. (2023). Leadership values for digital era: A study among Indonesian youth. Journal of Leadership in Education, 14(3), 250–268.

Schein, E. H. (2017). Organizational culture and leadership (5th ed.). John Wiley & Sons.

Yukl, G. A. (2019). Leadership in organizations (9th ed.). Pearson Education.

Yukl, G. A. (2020). Leadership in organizations (9th ed.). Pearson Education.


PROFIL PENULIS


Novia Sari Rahmadhani Nasution, lahir di Dumai pada tanggal 21 November 2003. Saya salah satu alumni dari MAN 1 Kota Dumai. Saat ini, saya menempuh pendidikan di Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai, Fakultas Tarbiyah, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam. Dengan latar belakang pendidikan di bidang manajemen pendidikan Islam, saya memiliki ketertarikan pada dunia manajemen dan kepemimpinan. Saat ini, saya masih terus belajar dan berusaha meningkatkan pemahaman, keterampilan, percaya diri dan mengatur waktu dalam bidang yang saya tekuni. Harapan saya mengambil jurusan ini, supaya saya bisa lebih mahir dalam bidang manajemen terutama untuk diri sendiri.

Komentar