KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN HADIS
BAB V
KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN HADIS
Pendahuluan
Kepemimpinan merupakan elemen penting dalam kehidupan individu maupun
masyarakat. Dalam konteks sosial, kepemimpinan memiliki peran sebagai pengarah,
penggerak, dan penentu arah dari suatu komunitas atau organisasi. Islam sebagai
agama yang komprehensif tidak hanya mengatur aspek ibadah ritual, tetapi juga
memberikan perhatian serius terhadap aspek sosial-politik, termasuk
kepemimpinan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar
fungsi administratif, tetapi merupakan amanah yang harus dijalankan dengan
penuh tanggung jawab dan keadilan.
Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam memberikan banyak arahan
mengenai nilai-nilai yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dalam QS.
Al-Baqarah ayat 247 misalnya, Allah berfirman bahwa pemimpin harus memiliki
ilmu dan fisik yang kuat, sebagaimana ditunjukkan dalam kisah pengangkatan
Thalut sebagai raja. Ayat ini menunjukkan bahwa kriteria pemimpin dalam Islam
tidak hanya berkaitan dengan popularitas, tetapi lebih kepada kualitas pribadi
yang dimiliki (Shihab, 2007). Selain itu, kepemimpinan dalam Islam juga erat
kaitannya dengan akhlak, karena pemimpin adalah cerminan moral umat yang
dipimpinnya.
Tidak hanya Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad SAW juga memberikan
kontribusi besar dalam menjelaskan prinsip-prinsip dasar kepemimpinan. Nabi
bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai
pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini
menekankan aspek tanggung jawab dalam kepemimpinan, di mana setiap individu,
baik sebagai kepala negara maupun kepala keluarga, memikul amanah yang harus
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT (Al-Mubarakfuri, 2000).
Dalam realitas sejarah, Nabi Muhammad SAW sendiri adalah teladan terbaik
dalam menjalankan kepemimpinan. Beliau tidak hanya sebagai rasul, tetapi juga
sebagai kepala negara, panglima perang, dan hakim. Karakter kepemimpinan beliau
yang penuh dengan kasih sayang, keadilan, dan kebijaksanaan menjadi model utama
bagi umat Islam sepanjang zaman (Ramli, 2018). Oleh karena itu, studi mengenai
kepemimpinan dalam perspektif Islam tidak dapat dilepaskan dari sirah nabawiyah
sebagai sumber inspirasi dan pembelajaran yang autentik.
Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji konsep kepemimpinan dalam
perspektif Al-Qur’an dan hadis, serta menganalisis prinsip-prinsip dasar yang
harus dimiliki oleh seorang pemimpin dalam Islam. Dengan pendekatan ini,
diharapkan pembaca dapat memahami bahwa kepemimpinan dalam Islam bukan hanya
soal kekuasaan, melainkan suatu amanah spiritual yang menuntut integritas,
keadilan, dan pengabdian yang tinggi kepada Allah dan umat manusia.
1.
Pengertian Kepemimpinan dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis
Kepemimpinan dalam
Islam memiliki kedudukan yang sangat penting karena berhubungan langsung dengan
pelaksanaan nilai-nilai syariat dan kesejahteraan umat. Istilah kepemimpinan
dalam bahasa Arab dikenal dengan al-imāmah atau al-riyāsah, yang
berarti pengaturan, pengelolaan, dan tanggung jawab terhadap suatu urusan
(Munawwir, 1997). Dalam Islam, kepemimpinan bukan hanya tentang mengatur orang
lain, melainkan tentang membawa umat menuju kebaikan dunia dan akhirat.
Al-Qur’an tidak
menyebutkan definisi kepemimpinan secara eksplisit, namun banyak ayat yang
menjelaskan prinsip-prinsip dasar dan sifat-sifat ideal seorang pemimpin. Dalam
QS. Al-Baqarah [2]: 124, Allah menyebutkan tentang Ibrahim yang diangkat
menjadi imam (pemimpin) bagi manusia setelah berhasil melewati berbagai ujian.
Ayat ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Islam adalah bentuk penghargaan
ilahi atas keimanan, ketaatan, dan kesabaran (Shihab, 2007). Kepemimpinan
adalah amanah besar yang diberikan kepada mereka yang layak dan teruji secara
moral dan spiritual.
Selain itu, QS.
An-Nisa’ [4]: 58-59 memberikan prinsip dasar kepemimpinan: keadilan dan
ketaatan terhadap otoritas yang sah. Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan
agar amanah disampaikan kepada yang berhak dan agar umat menaati Allah, Rasul,
dan ulil amri (pemimpin) di antara mereka. Hal ini menegaskan bahwa dalam
Islam, pemimpin adalah perwakilan dari nilai-nilai ilahiyah, bukan sekadar
penguasa politik atau administratif (Nasution, 2011).
Hadis Nabi Muhammad
SAW memperkuat konsep ini. Dalam sabdanya, “Setiap kalian adalah pemimpin dan
akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (HR. Bukhari dan
Muslim). Hadis ini memberikan pemahaman bahwa kepemimpinan berlaku di semua
level kehidupan, mulai dari rumah tangga, masyarakat, hingga negara. Konsep ini
menjadikan kepemimpinan dalam Islam bersifat universal dan berbasis tanggung
jawab moral, bukan hanya posisi atau jabatan (Al-Mubarakfuri, 2000).
Kepemimpinan juga
erat kaitannya dengan konsep amanah dan mas’uliyyah
(pertanggungjawaban). Seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab kepada
rakyatnya, tetapi yang paling utama adalah kepada Allah SWT. Oleh karena itu,
pemimpin dalam Islam harus memiliki integritas, keadilan, dan komitmen terhadap
nilai-nilai syariah. Seorang pemimpin yang lalai atau berbuat zalim tidak hanya
mencederai kepercayaan publik, tetapi juga telah mengkhianati amanah dari Allah
(Siddiqi, 1995).
Dalam sejarah Islam,
Rasulullah SAW memberikan contoh terbaik sebagai pemimpin. Beliau menjalankan
kepemimpinan yang bersifat profetik, menyatukan fungsi kenabian, hukum,
militer, dan sosial secara harmonis. Kepemimpinan beliau ditandai dengan
musyawarah, kasih sayang, dan keadilan. QS. Ali Imran [3]: 159 menegaskan bahwa
Nabi Muhammad bersikap lembut kepada para sahabatnya, dan apabila beliau
bersikap keras, niscaya mereka akan menjauh darinya. Ayat ini menekankan
pentingnya pendekatan humanis dalam kepemimpinan (Ramli, 2018).
Kepemimpinan dalam
Islam juga mencerminkan upaya kolektif dalam mewujudkan maṣlaḥah
(kemaslahatan umum). Seorang pemimpin harus memiliki visi, kemampuan
manajerial, dan orientasi pada pelayanan terhadap umat, bukan untuk keuntungan
pribadi. Dalam hal ini, konsep syura atau musyawarah menjadi bagian
penting dalam pengambilan keputusan, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Asy-Syura
[42]: 38. Musyawarah bukan hanya mekanisme formal, tetapi bentuk penghormatan
terhadap kebijaksanaan kolektif (Mawardi, 2010).
Dengan demikian,
pengertian kepemimpinan dalam perspektif Al-Qur’an dan hadis mencakup dimensi
spiritual, moral, sosial, dan politik. Seorang pemimpin dalam Islam bukan hanya
dituntut untuk kompeten secara teknis, tetapi juga saleh secara pribadi.
Kepemimpinan adalah ibadah dan amanah, yang hanya bisa dijalankan oleh mereka
yang memahami hakikat tanggung jawab di dunia dan di akhirat. Maka, penting
bagi umat Islam untuk memilih dan melahirkan pemimpin-pemimpin yang sesuai
dengan nilai-nilai ilahiyah dan profetik.
2.
Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Kepemimpinan
QS. Al-Baqarah (2): 247
نَبِيُّهُمْ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ قَدْ بَعَثَ
لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًۭا ۚ
Artinya: "Nabi mereka berkata kepada mereka,
'Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.' Mereka menjawab,
'Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak atas kerajaan itu
daripadanya, dan dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup?' Nabi (mereka)
berkata, 'Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan memberinya
kelebihan dalam ilmu dan tubuh.'”
→ Ayat ini
menunjukkan bahwa ilmu dan kekuatan fisik adalah
dua kriteria penting dalam kepemimpinan.
QS.
An-Nisa’ (4): 58–59
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟
ٱلْأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا ۖ وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن
تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ...
Artinya: “Sesungguhnya
Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan
(menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu
menetapkan dengan adil...”
→
Ayat ini menekankan pentingnya keadilan dan amanah dalam kepemimpinan,
serta ketaatan
kepada pemimpin yang sah.
QS. Shad (38): 26
يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلْنَـٰكَ خَلِيفَةًۭ فِى
ٱلْأَرْضِ فَٱحْكُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ...
Artinya: “Wahai
Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di muka bumi, maka berilah
keputusan di antara manusia dengan kebenaran dan janganlah kamu mengikuti hawa
nafsu...”
→
Menunjukkan bahwa khalifah atau pemimpin harus adil dan tidak
mengikuti hawa nafsu dalam mengambil keputusan.
3.
Hadis-Hadis tentang Kepemimpinan
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Kullukum ra'in, wa kullukum mas’ūlun ‘an ra’iyyatihi."
Artinya: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap
kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya."(HR. Bukhari
no. 893 dan Muslim no. 1829)
إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَىٰ مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، عَن
يَمِينِ الرَّحْمَٰنِ، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ، الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي
حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وُلُّوا
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang berlaku
adil akan berada di sisi Allah di atas mimbar-mimbar dari cahaya, di sebelah
kanan Ar-Rahman, yaitu mereka yang berlaku adil dalam hukum mereka, terhadap
keluarga mereka, dan terhadap orang-orang yang berada dalam kekuasaan
mereka." (HR. Muslim no. 1827)
مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ، وَمَا نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ
Artinya: "Tidak akan kecewa orang yang
beristikharah, dan tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah." (HR.
Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir)
4.
Prinsip-Prinsip Kepemimpinan dalam Islam
Kepemimpinan dalam Islam memiliki
dasar dan prinsip yang kokoh, bersumber dari Al-Qur’an, Hadis, serta praktik
para pemimpin muslim terdahulu. Kepemimpinan tidak hanya dimaknai sebagai
kekuasaan, tetapi sebagai amanah (tanggung jawab), yang
harus dijalankan dengan penuh integritas, keadilan, dan orientasi pada
kemaslahatan umat. Berikut adalah prinsip-prinsip utama dalam kepemimpinan
Islam:
1)
Amanah (Tanggung Jawab)
Prinsip utama dalam kepemimpinan
adalah amanah, yakni tanggung jawab yang diberikan kepada seseorang yang layak
menerimanya. Kepemimpinan bukan kehormatan, tetapi beban pertanggungjawaban di
hadapan Allah.
Rasulullah SAW bersabda: “Setiap
kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas
kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Amanah berarti seorang pemimpin
harus jujur, terpercaya, dan menjalankan perannya dengan penuh kesungguhan.
Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
menyampaikan amanah kepada yang berhak..." (QS. An-Nisa
[4]:58) (Budiyanto, 2017)
2)
Adil (Menegakkan Keadilan)
Keadilan merupakan pilar utama dalam
Islam. Seorang pemimpin dituntut untuk bersikap adil kepada seluruh rakyat
tanpa membedakan latar belakang, status sosial, maupun agama. Dalam QS. An-Nahl
[16]: 90, Allah menegaskan perintah untuk berlaku adil.
Keadilan dalam kepemimpinan tidak
hanya dalam hukum, tetapi juga dalam distribusi sumber daya, pelayanan, dan
hak-hak rakyat. Nabi bersabda bahwa pemimpin yang adil akan mendapatkan naungan
Allah di hari kiamat (HR. Bukhari dan Muslim). (Al-Mawardi, 2010)
3) Syura
(Musyawarah)
Islam menekankan pentingnya
musyawarah dalam pengambilan keputusan. Hal ini ditegaskan dalam QS. Asy-Syura
[42]: 38 “...dan
urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka...”.
Syura dalam kepemimpinan menunjukkan
bahwa seorang pemimpin tidak boleh otoriter, melainkan melibatkan pihak-pihak
yang kompeten dan mewakili kepentingan umat dalam proses kebijakan. Prinsip ini
juga menunjukkan pentingnya transparansi dan keterbukaan informasi
dalam pemerintahan.
(Ramli, 2018)
4) Keadaban
dan Akhlak Mulia
Seorang pemimpin dalam Islam wajib
menunjukkan akhlak yang baik dan tidak kasar terhadap rakyat. Rasulullah SAW
adalah contoh sempurna dalam hal ini, sebagaimana Allah firmankan dalam QS. Ali
Imran [3]: 159 “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu
berlaku lemah lembut terhadap mereka…”.
Akhlak yang baik menjadi penentu
legitimasi moral seorang pemimpin. Kepemimpinan profetik Nabi Muhammad SAW
dibangun atas dasar kasih sayang, kejujuran, dan keteladanan. (Shihab, 2007)
5) Kapasitas
dan Kompetensi (al-Kifā’ah)
Islam mendorong agar kepemimpinan
diberikan kepada orang yang ahli dan kompeten. Dalam QS. Yusuf [12]: 55, Nabi
Yusuf berkata: “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir),
sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”
Pemimpin tidak cukup hanya saleh,
tetapi juga mampu secara teknis dan manajerial.
Rasulullah SAW juga bersabda: “Jika suatu urusan diserahkan bukan kepada
ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari)
(Siddiqi, 1995)
6) Taat
kepada Hukum Allah (Syariah Compliance)
Seorang pemimpin wajib menjadikan
hukum Allah sebagai landasan dalam setiap kebijakan. Allah berfirman dalam
QS.Al-Ma’idah [5]: 44 “Barang siapa tidak memutuskan menurut apa yang
diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.”
Pemimpin muslim tidak boleh
menyimpang dari hukum syariah demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
Kepemimpinan harus membawa umat pada jalan yang diridhai Allah. (Nasution,
2011)
7) Pelayanan
kepada Umat (Khidmah)
Kepemimpinan dalam Islam adalah
bentuk pelayanan (khidmah), bukan untuk memuaskan ego
pribadi atau mengejar keuntungan. Rasulullah SAW bersabda: “Pemimpin
suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR. Abu Nu’aim)
Pemimpin harus memiliki empati, mau
mendengar aspirasi rakyat, serta siap menanggung beban dan penderitaan umat
demi kepentingan bersama (Hamzah, 2019)
8) Akuntabilitas
(al-Mas’uliyyah)
Setiap pemimpin akan dimintai
pertanggungjawaban, baik di dunia maupun di akhirat. Ini mengajarkan pentingnya
akuntabilitas dan transparansi dalam pemerintahan. Rasulullah bersabda: “Setiap
pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”
(HR. Muslim)
Akuntabilitas juga mencakup evaluasi
kebijakan, pengawasan publik, dan keterbukaan informasi. Prinsip ini menghindarkan
dari penyalahgunaan kekuasaan. (Furqon, 2020)
Rangkuman
Materi
Kepemimpinan dalam
Islam merupakan amanah besar yang harus dijalankan dengan tanggung jawab,
keadilan, dan orientasi terhadap kemaslahatan umat. Al-Qur’an menggambarkan
pemimpin sebagai figur yang harus membawa manusia kepada kebaikan dan ketaatan
kepada Allah, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim (QS. Al-Baqarah: 124).
Dalam hadis, Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap individu adalah pemimpin
dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya (HR. Bukhari dan
Muslim). Dengan demikian, kepemimpinan bukan hanya soal kekuasaan, melainkan
tugas berat yang harus dijalankan dengan penuh integritas.
Prinsip-prinsip
kepemimpinan Islam meliputi amanah (tanggung jawab), adil, musyawarah (syura),
akhlak mulia, kapasitas (kompetensi), kepatuhan terhadap syariat, pelayanan
kepada umat (khidmah), serta akuntabilitas. Seorang pemimpin dalam Islam harus
menjauhi ambisi kekuasaan, mengutamakan musyawarah, berlaku adil dalam
memimpin, dan meneladani akhlak Rasulullah SAW. Kepemimpinan yang sesuai dengan
nilai-nilai Islam akan menciptakan keadilan sosial, kesejahteraan rakyat, serta
kepemimpinan yang diberkahi oleh Allah SWT.
Daftar
Pertanyaan
1. Apa pengertian kepemimpinan dalam perspektif Islam menurut Al-Qur’an dan
Hadis?
2. Apa saja prinsip utama dalam kepemimpinan Islam?
3. Apa peran keadilan dalam kepemimpinan menurut Islam?
4. Mengapa musyawarah penting dalam kepemimpinan Islam?
5. Bagaimana Islam memandang permintaan terhadap jabatan atau kepemimpinan
Daftar Pustaka
Al-Ghazali, A. H. M. (2000). Ihya’ Ulumuddin (Vol. 2). Beirut:
Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Mawardi, A. (2010). Al-Ahkam As-Sultaniyyah. Darul Fikr.
Amin, A. (2018). Akhlak Pemimpin Menurut Al-Qur’an. Jurnal
Al-Tarbiyah, 5(1), 77–89.
As-Syafi’i, M. I. (2014). Risalah. Beirut: Dar al-Ma’arif.
Bahri, S. (2016). Kepemimpinan Profetik dan Relevansinya dengan
Kepemimpinan Modern. Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat, 7(1), 49–60.
Budiyanto, T. (2017). Kepemimpinan dalam perspektif Islam dan
implementasinya dalam organisasi. Jurnal Dakwah dan Komunikasi, 19(1),
55–68.
Fathurrahman, M. (2018). Kepemimpinan dalam Perspektif Al-Qur’an: Studi
Tafsir Tematik. Jurnal Studi Qur’an, 4(2), 155–170.
Furqon, A. (2020). Etika Kepemimpinan dalam Islam. Yogyakarta:
UII Press.
Hamzah, R. (2019). Konsep pelayanan publik dalam kepemimpinan Islam. Jurnal
Ilmu Pemerintahan Islam, 4(1), 10–21.
Hasan, L. (2020). Leadership in Islamic Thought. London: Islamic
Foundation Press.
Hasyim, N. (2022). Model kepemimpinan Rasulullah dalam konteks sosial
politik. Jurnal Kepemimpinan Islam, 9(1), 99–110.
Ismail, S. (2017). Syura sebagai prinsip demokrasi dalam Islam. Jurnal
Demokrasi Islam, 11(2), 45–58.
Kamal, M. (2021). Tinjauan epistemologi terhadap prinsip akuntabilitas
dalam Islam. Jurnal Etika dan Kepemimpinan, 3(1), 13–25.
Kementerian Agama RI. (2020). Al-Qur’an dan Terjemahannya.
Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Ma’arif, S. (2017). Tanggung jawab pemimpin dalam perspektif hadis. Jurnal
Studi Islam Hadis, 11(1), 55–70.
Mahmud, S. (2015). Kepemimpinan dalam Islam: Telaah Hadis dan Sejarah.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Munawwar, K. (2019). Prinsip keadilan dalam kepemimpinan menurut
al-Qur’an. Jurnal Pemikiran Islam, 25(2), 205–219.
Nasution, H. (2011). Islam Rasional. Jakarta: Mizan.
Nawawi, M. Y. (2015). Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Kairo: Dar
Ibn Katsir.
Nurhadi, A. (2021). Implementasi nilai-nilai kepemimpinan Islam dalam
organisasi pemerintahan. Jurnal Ilmu Sosial dan Politik Islam, 14(1),
35–46.
Quraisy, A. (2013). Pemimpin dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Jakarta:
Kencana.
Rahmat, M. (2016). Konsep kepemimpinan dalam Islam dan aplikasinya di
organisasi modern. Jurnal Al-Hikmah, 10(2), 120–130.
Ramli, A. (2018). Konsep kepemimpinan dalam Islam dan relevansinya
terhadap kepemimpinan modern. Jurnal Ilmu Dakwah dan Komunikasi, 17(2),
111–120.
Shihab, M. Q. (2007). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian
Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.
Siddiqi, M. N. (1995). Kepemimpinan dalam Islam. Yogyakarta: Dana
Bhakti Wakaf.
Suparman, D. (2019). Kepemimpinan dan Manajemen dalam Pendidikan Islam. Jurnal
Ta’dib, 22(2), 145–160.
Sya’rawi, M. M. (2006). Kepemimpinan dalam Pandangan Islam.
Jakarta: Gema Insani.
Syamsuddin, A. (2012). Manajemen Kepemimpinan Islam. Bandung:
Pustaka Setia.
Yusuf al-Qaradawi. (2001). Fiqh Daulah. Cairo: Dar al-Shuruq.
Zuhri, A. (2020). Kepemimpinan Rasulullah SAW dalam membangun masyarakat
Madinah. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, 18(1), 87–98.
PROFIL
PENULIS
Novia Sari Rahmadhani
Nasution, lahir di Dumai pada 21 November 2003. Saat ini, saya menempuh
pendidikan di Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai, Fakultas Tarbiyah,
Program Studi Manajemen Pendidikan Islam. Selain aktif dalam dunia akademik,
saya juga menjadi salah satu anggota florist yang ada di Bumi Ayu, dan kerja
part time menjadi kurir pribadi di florist tersebut. Selain di florist, saya
juga menjadi salah satu anggota di tempat jualan abang saya, serta menjadi
asisten pribadi mama untuk membuat serta menghandle list pesanannya. Dengan
latar belakang pendidikan di bidang manajemen pendidikan Islam, saya memiliki
ketertarikan pada dunia manajemen dan kepemimpinan. Saat ini, saya masih terus
belajar dan berusaha meningkatkan pemahaman, keterampilan, percaya diri dan
mengatur waktu dalam bidang yang saya tekuni.
Komentar
Posting Komentar