KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN HADIS

 

BAB V

KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN HADIS

Pendahuluan

Kepemimpinan merupakan elemen penting dalam kehidupan individu maupun masyarakat. Dalam konteks sosial, kepemimpinan memiliki peran sebagai pengarah, penggerak, dan penentu arah dari suatu komunitas atau organisasi. Islam sebagai agama yang komprehensif tidak hanya mengatur aspek ibadah ritual, tetapi juga memberikan perhatian serius terhadap aspek sosial-politik, termasuk kepemimpinan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar fungsi administratif, tetapi merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan keadilan.

Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam memberikan banyak arahan mengenai nilai-nilai yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 247 misalnya, Allah berfirman bahwa pemimpin harus memiliki ilmu dan fisik yang kuat, sebagaimana ditunjukkan dalam kisah pengangkatan Thalut sebagai raja. Ayat ini menunjukkan bahwa kriteria pemimpin dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan popularitas, tetapi lebih kepada kualitas pribadi yang dimiliki (Shihab, 2007). Selain itu, kepemimpinan dalam Islam juga erat kaitannya dengan akhlak, karena pemimpin adalah cerminan moral umat yang dipimpinnya.

Tidak hanya Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad SAW juga memberikan kontribusi besar dalam menjelaskan prinsip-prinsip dasar kepemimpinan. Nabi bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menekankan aspek tanggung jawab dalam kepemimpinan, di mana setiap individu, baik sebagai kepala negara maupun kepala keluarga, memikul amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT (Al-Mubarakfuri, 2000).

Dalam realitas sejarah, Nabi Muhammad SAW sendiri adalah teladan terbaik dalam menjalankan kepemimpinan. Beliau tidak hanya sebagai rasul, tetapi juga sebagai kepala negara, panglima perang, dan hakim. Karakter kepemimpinan beliau yang penuh dengan kasih sayang, keadilan, dan kebijaksanaan menjadi model utama bagi umat Islam sepanjang zaman (Ramli, 2018). Oleh karena itu, studi mengenai kepemimpinan dalam perspektif Islam tidak dapat dilepaskan dari sirah nabawiyah sebagai sumber inspirasi dan pembelajaran yang autentik.

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji konsep kepemimpinan dalam perspektif Al-Qur’an dan hadis, serta menganalisis prinsip-prinsip dasar yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dalam Islam. Dengan pendekatan ini, diharapkan pembaca dapat memahami bahwa kepemimpinan dalam Islam bukan hanya soal kekuasaan, melainkan suatu amanah spiritual yang menuntut integritas, keadilan, dan pengabdian yang tinggi kepada Allah dan umat manusia.

1.        Pengertian Kepemimpinan dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis

Kepemimpinan dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat penting karena berhubungan langsung dengan pelaksanaan nilai-nilai syariat dan kesejahteraan umat. Istilah kepemimpinan dalam bahasa Arab dikenal dengan al-imāmah atau al-riyāsah, yang berarti pengaturan, pengelolaan, dan tanggung jawab terhadap suatu urusan (Munawwir, 1997). Dalam Islam, kepemimpinan bukan hanya tentang mengatur orang lain, melainkan tentang membawa umat menuju kebaikan dunia dan akhirat.

Al-Qur’an tidak menyebutkan definisi kepemimpinan secara eksplisit, namun banyak ayat yang menjelaskan prinsip-prinsip dasar dan sifat-sifat ideal seorang pemimpin. Dalam QS. Al-Baqarah [2]: 124, Allah menyebutkan tentang Ibrahim yang diangkat menjadi imam (pemimpin) bagi manusia setelah berhasil melewati berbagai ujian. Ayat ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Islam adalah bentuk penghargaan ilahi atas keimanan, ketaatan, dan kesabaran (Shihab, 2007). Kepemimpinan adalah amanah besar yang diberikan kepada mereka yang layak dan teruji secara moral dan spiritual.

Selain itu, QS. An-Nisa’ [4]: 58-59 memberikan prinsip dasar kepemimpinan: keadilan dan ketaatan terhadap otoritas yang sah. Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan agar amanah disampaikan kepada yang berhak dan agar umat menaati Allah, Rasul, dan ulil amri (pemimpin) di antara mereka. Hal ini menegaskan bahwa dalam Islam, pemimpin adalah perwakilan dari nilai-nilai ilahiyah, bukan sekadar penguasa politik atau administratif (Nasution, 2011).

Hadis Nabi Muhammad SAW memperkuat konsep ini. Dalam sabdanya, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini memberikan pemahaman bahwa kepemimpinan berlaku di semua level kehidupan, mulai dari rumah tangga, masyarakat, hingga negara. Konsep ini menjadikan kepemimpinan dalam Islam bersifat universal dan berbasis tanggung jawab moral, bukan hanya posisi atau jabatan (Al-Mubarakfuri, 2000).

Kepemimpinan juga erat kaitannya dengan konsep amanah dan mas’uliyyah (pertanggungjawaban). Seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab kepada rakyatnya, tetapi yang paling utama adalah kepada Allah SWT. Oleh karena itu, pemimpin dalam Islam harus memiliki integritas, keadilan, dan komitmen terhadap nilai-nilai syariah. Seorang pemimpin yang lalai atau berbuat zalim tidak hanya mencederai kepercayaan publik, tetapi juga telah mengkhianati amanah dari Allah (Siddiqi, 1995).

Dalam sejarah Islam, Rasulullah SAW memberikan contoh terbaik sebagai pemimpin. Beliau menjalankan kepemimpinan yang bersifat profetik, menyatukan fungsi kenabian, hukum, militer, dan sosial secara harmonis. Kepemimpinan beliau ditandai dengan musyawarah, kasih sayang, dan keadilan. QS. Ali Imran [3]: 159 menegaskan bahwa Nabi Muhammad bersikap lembut kepada para sahabatnya, dan apabila beliau bersikap keras, niscaya mereka akan menjauh darinya. Ayat ini menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam kepemimpinan (Ramli, 2018).

Kepemimpinan dalam Islam juga mencerminkan upaya kolektif dalam mewujudkan maṣlaḥah (kemaslahatan umum). Seorang pemimpin harus memiliki visi, kemampuan manajerial, dan orientasi pada pelayanan terhadap umat, bukan untuk keuntungan pribadi. Dalam hal ini, konsep syura atau musyawarah menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Asy-Syura [42]: 38. Musyawarah bukan hanya mekanisme formal, tetapi bentuk penghormatan terhadap kebijaksanaan kolektif (Mawardi, 2010).

Dengan demikian, pengertian kepemimpinan dalam perspektif Al-Qur’an dan hadis mencakup dimensi spiritual, moral, sosial, dan politik. Seorang pemimpin dalam Islam bukan hanya dituntut untuk kompeten secara teknis, tetapi juga saleh secara pribadi. Kepemimpinan adalah ibadah dan amanah, yang hanya bisa dijalankan oleh mereka yang memahami hakikat tanggung jawab di dunia dan di akhirat. Maka, penting bagi umat Islam untuk memilih dan melahirkan pemimpin-pemimpin yang sesuai dengan nilai-nilai ilahiyah dan profetik.


 

2.        Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Kepemimpinan

QS. Al-Baqarah (2): 247

نَبِيُّهُمْ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًۭا ۚ

Artinya: "Nabi mereka berkata kepada mereka, 'Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.' Mereka menjawab, 'Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup?' Nabi (mereka) berkata, 'Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan memberinya kelebihan dalam ilmu dan tubuh.'”

→ Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu dan kekuatan fisik adalah dua kriteria penting dalam kepemimpinan.

QS. An-Nisa’ (4): 58–59

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا ۖ وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ...

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil...”

→ Ayat ini menekankan pentingnya keadilan dan amanah dalam kepemimpinan, serta ketaatan kepada pemimpin yang sah.

QS. Shad (38): 26

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلْنَـٰكَ خَلِيفَةًۭ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱحْكُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ...

Artinya: “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan kebenaran dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu...”

→ Menunjukkan bahwa khalifah atau pemimpin harus adil dan tidak mengikuti hawa nafsu dalam mengambil keputusan.

3.        Hadis-Hadis tentang Kepemimpinan

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Kullukum ra'in, wa kullukum mas’ūlun ‘an ra’iyyatihi."

Artinya: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya."(HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829)

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَىٰ مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، عَن يَمِينِ الرَّحْمَٰنِ، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ، الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وُلُّوا

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil akan berada di sisi Allah di atas mimbar-mimbar dari cahaya, di sebelah kanan Ar-Rahman, yaitu mereka yang berlaku adil dalam hukum mereka, terhadap keluarga mereka, dan terhadap orang-orang yang berada dalam kekuasaan mereka." (HR. Muslim no. 1827)

 

مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ، وَمَا نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ

Artinya: "Tidak akan kecewa orang yang beristikharah, dan tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah." (HR. Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir)

4.        Prinsip-Prinsip Kepemimpinan dalam Islam

Kepemimpinan dalam Islam memiliki dasar dan prinsip yang kokoh, bersumber dari Al-Qur’an, Hadis, serta praktik para pemimpin muslim terdahulu. Kepemimpinan tidak hanya dimaknai sebagai kekuasaan, tetapi sebagai amanah (tanggung jawab), yang harus dijalankan dengan penuh integritas, keadilan, dan orientasi pada kemaslahatan umat. Berikut adalah prinsip-prinsip utama dalam kepemimpinan Islam:

1)      Amanah (Tanggung Jawab)

Prinsip utama dalam kepemimpinan adalah amanah, yakni tanggung jawab yang diberikan kepada seseorang yang layak menerimanya. Kepemimpinan bukan kehormatan, tetapi beban pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Amanah berarti seorang pemimpin harus jujur, terpercaya, dan menjalankan perannya dengan penuh kesungguhan. Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak..." (QS. An-Nisa [4]:58) (Budiyanto, 2017)

2)      Adil (Menegakkan Keadilan)

Keadilan merupakan pilar utama dalam Islam. Seorang pemimpin dituntut untuk bersikap adil kepada seluruh rakyat tanpa membedakan latar belakang, status sosial, maupun agama. Dalam QS. An-Nahl [16]: 90, Allah menegaskan perintah untuk berlaku adil.

Keadilan dalam kepemimpinan tidak hanya dalam hukum, tetapi juga dalam distribusi sumber daya, pelayanan, dan hak-hak rakyat. Nabi bersabda bahwa pemimpin yang adil akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat (HR. Bukhari dan Muslim). (Al-Mawardi, 2010)

3)      Syura (Musyawarah)

Islam menekankan pentingnya musyawarah dalam pengambilan keputusan. Hal ini ditegaskan dalam QS. Asy-Syura [42]: 38 “...dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka...”.

Syura dalam kepemimpinan menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak boleh otoriter, melainkan melibatkan pihak-pihak yang kompeten dan mewakili kepentingan umat dalam proses kebijakan. Prinsip ini juga menunjukkan pentingnya transparansi dan keterbukaan informasi dalam pemerintahan.
(Ramli, 2018)

4)      Keadaban dan Akhlak Mulia

Seorang pemimpin dalam Islam wajib menunjukkan akhlak yang baik dan tidak kasar terhadap rakyat. Rasulullah SAW adalah contoh sempurna dalam hal ini, sebagaimana Allah firmankan dalam QS. Ali Imran [3]: 159 “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka…”.

Akhlak yang baik menjadi penentu legitimasi moral seorang pemimpin. Kepemimpinan profetik Nabi Muhammad SAW dibangun atas dasar kasih sayang, kejujuran, dan keteladanan. (Shihab, 2007)

5)      Kapasitas dan Kompetensi (al-Kifā’ah)

Islam mendorong agar kepemimpinan diberikan kepada orang yang ahli dan kompeten. Dalam QS. Yusuf [12]: 55, Nabi Yusuf berkata: “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”

Pemimpin tidak cukup hanya saleh, tetapi juga mampu secara teknis dan manajerial. Rasulullah SAW juga bersabda: “Jika suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari)
(Siddiqi, 1995)

6)      Taat kepada Hukum Allah (Syariah Compliance)

Seorang pemimpin wajib menjadikan hukum Allah sebagai landasan dalam setiap kebijakan. Allah berfirman dalam QS.Al-Ma’idah [5]: 44 “Barang siapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.”

Pemimpin muslim tidak boleh menyimpang dari hukum syariah demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Kepemimpinan harus membawa umat pada jalan yang diridhai Allah. (Nasution, 2011)

7)      Pelayanan kepada Umat (Khidmah)

Kepemimpinan dalam Islam adalah bentuk pelayanan (khidmah), bukan untuk memuaskan ego pribadi atau mengejar keuntungan. Rasulullah SAW bersabda: “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR. Abu Nu’aim)

Pemimpin harus memiliki empati, mau mendengar aspirasi rakyat, serta siap menanggung beban dan penderitaan umat demi kepentingan bersama (Hamzah, 2019)

8)      Akuntabilitas (al-Mas’uliyyah)

Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban, baik di dunia maupun di akhirat. Ini mengajarkan pentingnya akuntabilitas dan transparansi dalam pemerintahan. Rasulullah bersabda: “Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Muslim)

Akuntabilitas juga mencakup evaluasi kebijakan, pengawasan publik, dan keterbukaan informasi. Prinsip ini menghindarkan dari penyalahgunaan kekuasaan. (Furqon, 2020)


 

Rangkuman Materi

Kepemimpinan dalam Islam merupakan amanah besar yang harus dijalankan dengan tanggung jawab, keadilan, dan orientasi terhadap kemaslahatan umat. Al-Qur’an menggambarkan pemimpin sebagai figur yang harus membawa manusia kepada kebaikan dan ketaatan kepada Allah, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim (QS. Al-Baqarah: 124). Dalam hadis, Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap individu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan demikian, kepemimpinan bukan hanya soal kekuasaan, melainkan tugas berat yang harus dijalankan dengan penuh integritas.

Prinsip-prinsip kepemimpinan Islam meliputi amanah (tanggung jawab), adil, musyawarah (syura), akhlak mulia, kapasitas (kompetensi), kepatuhan terhadap syariat, pelayanan kepada umat (khidmah), serta akuntabilitas. Seorang pemimpin dalam Islam harus menjauhi ambisi kekuasaan, mengutamakan musyawarah, berlaku adil dalam memimpin, dan meneladani akhlak Rasulullah SAW. Kepemimpinan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam akan menciptakan keadilan sosial, kesejahteraan rakyat, serta kepemimpinan yang diberkahi oleh Allah SWT.

Daftar Pertanyaan

1.      Apa pengertian kepemimpinan dalam perspektif Islam menurut Al-Qur’an dan Hadis?

2.      Apa saja prinsip utama dalam kepemimpinan Islam?

3.      Apa peran keadilan dalam kepemimpinan menurut Islam?

4.      Mengapa musyawarah penting dalam kepemimpinan Islam?

5.      Bagaimana Islam memandang permintaan terhadap jabatan atau kepemimpinan


 

Daftar Pustaka

Al-Ghazali, A. H. M. (2000). Ihya’ Ulumuddin (Vol. 2). Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Mawardi, A. (2010). Al-Ahkam As-Sultaniyyah. Darul Fikr.

Amin, A. (2018). Akhlak Pemimpin Menurut Al-Qur’an. Jurnal Al-Tarbiyah, 5(1), 77–89.

As-Syafi’i, M. I. (2014). Risalah. Beirut: Dar al-Ma’arif.

Bahri, S. (2016). Kepemimpinan Profetik dan Relevansinya dengan Kepemimpinan Modern. Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat, 7(1), 49–60.

Budiyanto, T. (2017). Kepemimpinan dalam perspektif Islam dan implementasinya dalam organisasi. Jurnal Dakwah dan Komunikasi, 19(1), 55–68.

Fathurrahman, M. (2018). Kepemimpinan dalam Perspektif Al-Qur’an: Studi Tafsir Tematik. Jurnal Studi Qur’an, 4(2), 155–170.

Furqon, A. (2020). Etika Kepemimpinan dalam Islam. Yogyakarta: UII Press.

Hamzah, R. (2019). Konsep pelayanan publik dalam kepemimpinan Islam. Jurnal Ilmu Pemerintahan Islam, 4(1), 10–21.

Hasan, L. (2020). Leadership in Islamic Thought. London: Islamic Foundation Press.

Hasyim, N. (2022). Model kepemimpinan Rasulullah dalam konteks sosial politik. Jurnal Kepemimpinan Islam, 9(1), 99–110.

Ismail, S. (2017). Syura sebagai prinsip demokrasi dalam Islam. Jurnal Demokrasi Islam, 11(2), 45–58.

Kamal, M. (2021). Tinjauan epistemologi terhadap prinsip akuntabilitas dalam Islam. Jurnal Etika dan Kepemimpinan, 3(1), 13–25.

Kementerian Agama RI. (2020). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Ma’arif, S. (2017). Tanggung jawab pemimpin dalam perspektif hadis. Jurnal Studi Islam Hadis, 11(1), 55–70.

Mahmud, S. (2015). Kepemimpinan dalam Islam: Telaah Hadis dan Sejarah. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Munawwar, K. (2019). Prinsip keadilan dalam kepemimpinan menurut al-Qur’an. Jurnal Pemikiran Islam, 25(2), 205–219.

Nasution, H. (2011). Islam Rasional. Jakarta: Mizan.

Nawawi, M. Y. (2015). Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Kairo: Dar Ibn Katsir.

Nurhadi, A. (2021). Implementasi nilai-nilai kepemimpinan Islam dalam organisasi pemerintahan. Jurnal Ilmu Sosial dan Politik Islam, 14(1), 35–46.

Quraisy, A. (2013). Pemimpin dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Jakarta: Kencana.

Rahmat, M. (2016). Konsep kepemimpinan dalam Islam dan aplikasinya di organisasi modern. Jurnal Al-Hikmah, 10(2), 120–130.

Ramli, A. (2018). Konsep kepemimpinan dalam Islam dan relevansinya terhadap kepemimpinan modern. Jurnal Ilmu Dakwah dan Komunikasi, 17(2), 111–120.

Shihab, M. Q. (2007). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.

Siddiqi, M. N. (1995). Kepemimpinan dalam Islam. Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf.

Suparman, D. (2019). Kepemimpinan dan Manajemen dalam Pendidikan Islam. Jurnal Ta’dib, 22(2), 145–160.

Sya’rawi, M. M. (2006). Kepemimpinan dalam Pandangan Islam. Jakarta: Gema Insani.

Syamsuddin, A. (2012). Manajemen Kepemimpinan Islam. Bandung: Pustaka Setia.

Yusuf al-Qaradawi. (2001). Fiqh Daulah. Cairo: Dar al-Shuruq.

Zuhri, A. (2020). Kepemimpinan Rasulullah SAW dalam membangun masyarakat Madinah. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, 18(1), 87–98.


 

PROFIL PENULIS

 Novia Sari Rahmadhani Nasution, lahir di Dumai pada 21 November 2003. Saat ini, saya menempuh pendidikan di Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai, Fakultas Tarbiyah, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam. Selain aktif dalam dunia akademik, saya juga menjadi salah satu anggota florist yang ada di Bumi Ayu, dan kerja part time menjadi kurir pribadi di florist tersebut. Selain di florist, saya juga menjadi salah satu anggota di tempat jualan abang saya, serta menjadi asisten pribadi mama untuk membuat serta menghandle list pesanannya. Dengan latar belakang pendidikan di bidang manajemen pendidikan Islam, saya memiliki ketertarikan pada dunia manajemen dan kepemimpinan. Saat ini, saya masih terus belajar dan berusaha meningkatkan pemahaman, keterampilan, percaya diri dan mengatur waktu dalam bidang yang saya tekuni.

 

Komentar